Sanggar Kemanggisan (SKM)

skm 11 SKM mengingatkan saya pada almarhum Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr., seorang rohaniwan Katolik, budayawan yang sekaligus juga seorang arsitek handal yang telah membaktikan hidupnya sejak awal tahun 80-an bagi masyarakat dibantaran kali Code Yogyakarta.

 

Sanggar Kreasi Mandiri atau Sanggar Kemanggisan adalah sebuah fasilitas sosial yang ditujukan sebagai rumah singgah bagi para anak jalanan. Karena sifatnya adalah sebagai rumah singgah, maka fasilitas SKM yang ada tidak diperuntukan untuk tinggal bagi para anak jalanan, melainkan sebuah sarana sosial tempat dimana anak-anak jalanan dapat bermain dan belajar.

 

SKM, dikelola oleh Street Kids Ministry. Sebuah lembaga nirlaba yang dipimpin oleh Pendeta Asmoro. Sama dengan yang telah dilakukan oleh Romo Mangun yang seorang Pastor, walaupun dikelola oleh seorang Pendeta namun SKM tidak ada unsur-unsur yang erat kaitan-nya dengan penyebaran agama. Segala sesuatu yang dilakukan dan dilaksanakan oleh Street Kids Ministry murni ditujukan untuk kepentingan sosial.

 

Hal ini dijelaskan oleh Pak Asmoro sendiri, bagaimana ia dan kawan-kawan yang tergabung dalam Street Kids Ministry dapat bekerjasama dengan baik dengan berbagai kalangan. Baik itu pemerintah daerah setempat dan juga dengan kalangan dari pengajian disekitar SKM berada, juga hal ini ditunjukan dari inisiatif Pak Asmoro dan kawan-kawan yang bersama-sama membangun sebuah Musholla kecil tepat dipinggir bantara kali Kemanggisan untuk dapat digunakan sebagai rumah ibadah sekaligus sebagai wadah untuk belajar bagi anak-anak jalanan itu. Sebuah usaha dan jerih payah yang tidak mudah memang, serta sebuah upaya NASIONALIS yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

 

Tahukah Anda bahwa di kota Jakarta itu terdapat 1789 lampu merah/traffic light?

Hari ini, saya dan beberapa kawan dari sesama pekerja di Microsoft Indonesia yang tergabung dalam Microsoft Volunteer berkesempatan untuk mengunjungi SKM. Melalui kunjungan ini, kami ingin berbagi apa yang bisa kami bagi dan bantu untuk SKM. Tidak banyak dan tidak luar biasa memang apa yang kami lakukan, selain sedikit berbagi kegembiraan kami dengan anak-anak jalanan yang menjadi asuhan SKM, melalui permainan dan lomba menggambar.

 

Selain itu, kami juga melaksanakan lombo foto kecil-kecilan yang diikuti oleh beberapa kawan dari Microsoft Volunteer. Objek dan tema-nya bebas seputar SKM. Dan hadiah bagi pemenang lomba foto itu didedikasikan kepada SKM. Sebuah usaha yang kami harap dapat berarti dan bermanfaat bagi SKM.

 

SKM didirikan sekitar kurang lebih 9 tahun yang lalu oleh Pak Asmoro dan kawan-kawan. Ketika itu Pak Asmoro sedang menempuh penyelesaian dari tesis yang sedang dia kerjakan. Selama persiapan dan pengerjaan tesis-nya itulah Pak Asmoro mendapati bahwa anak-anak jalanan benar-benar perlu pendampingan dan juga dia menghitung satu persatu lampu merah/traffic light yang ia hampiri (karena disitulah biasanya anak jalanan berkumpul) dan dia mendapati angka 1789 itu.

 

Anak-anak itu tidak hanya membutuhkan hal-hal yang bersifat jasmani seperti sandang, pangan dan juga papan, melainkan pendampingan dari sisi moral dan kejiwaan. Hal terakhir dilakukan oleh Street Kids Ministry melalui pelajaran dan juga permainan.

 

Satu kampanye yang sempat dilakukan oleh Street Kids Ministry (yang juga sempat ditayangkan oleh Metro TV) adalah STOP, JANGAN BERI ANAK JALANAN UANG.

 

Sebuah kampanye yang penuh idealisme memang, tapi patut untuk dipertimbangkan. Dengan memberikan uang kepada anak jalanan, kita secara tidak langsung merangsang dan memacu mereka untuk kembali mendapatkan uang dengan cara meminta seperti itu. Sebagai alternatifnya, kampanye tersebut menyarankan kita untuk memberikan makanan ringan (yang mengandung susu, coklat, dll) yang lebih banyak mengandung gizi.

 

Walaupun kampanye seperti itu tidak menjamin anak-anak itu tidak kembali ke jalan, tapi paling tidak dengan kita tidak memberikan uang kepada anak jalanan, kita turut membantu anak-anak itu untuk mendapatkan gizi (walaupun tidak terlalu sempurna). Karena belum tentu anak-anak itu mendapatkan hasil dari uang yang dapatkan.

 

Banyak hal yang kami pelajari dari SKM, yaitu: kondisi anak-anak yang seharusnya menikmati waktunya dengan bermain dan belajar, mereka terpaksa harus bekerja membantu keluarga (tentunya bukan dengan cara yang sehat dan baik), kualitas serta kondisi tempat tinggal mereka yang sangat memprihatinkan, kondisi sanitasi, dll. Well, mungkin itu adalah hal-hal klasik yang terjadi disemua kota besar. Benar juga sih, tapi baru kali ini saya benar-benar dapat mengalami dan menyaksikan langsung dari dekat bagaimana sebenarnya masyarakat urban Jakarta menyiasati hidup mereka dikota Jakarta. Selain itu, sebagai penghobi fotografi, kami juga belajar banyak mengenai fotografi dari Pak Arbain Rambey yang merupakan salah satu warta senior KOMPAS.

 

Bagi rekan-rekan yang ingin menyimak dokumentasi foto yang sempat saya ambil pada saat berkunjung ke SKM, dapat disimak pada tautan ini.

 

Bagi rekan-rekan yang barangkali tergerak hati-nya dan ingin turut membantu SKM dalam melaksanakan kegiatan mereka sehari-hari, dapat menghubungi:

 

Sekretariat SKM:
Jl. Sinar Budi No.16
Jembatan Dua, Jakarta Utara
Telp.: +(62) 21 6627685
Faks.: +(62) 21 6627685
HP:    +(62) 81514015008
Email: asmoro_skm@yahoo.com
U/P Asmoro

 

Sanggar:
Jl. Budi Raya No. 80B
Kemanggisan, Jakarta Barat