Penipuan Berkedok Kasus Narkoba

Benar sekali, saya baru saja menjadi korban dari tindak pidana penipuan melalui telepon. Penipuan yang saya alami menggunakan kasus narkoba sebagai kedoknya. Kasus penipuan dengan modus operandi tersebut jelas bukan yang pertama kali terjadi dan anda bisa jadi merupakan salah korban dari tindakan kriminal itu juga. Namun ada baiknya saya sharing disini agar anda dapat terhindar dari hal sejenis. Dan berikut ini adalah detail kronologi dari kejadian tersebut sesuai dengan laporan saya dan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) saya dikantor Polresta Balikpapan pada tanggal 28 Agustus 2011 pukul 09.00 WITA.

 

Kronologi Kasus

Tepat pada tanggal 28 Agustus 2011 pukul 03.00 WITA, saya yang sudah terlelap, harus terbangun oleh bunyi salah satu ponsel saya. Ponsel itu berkali-kali berbunyi dan nomor yang menghubungi saya adalah 082163642917, sebuah nomor yang belum terdaftar pada ponsel saya. Sebenarnya saya malas untuk menjawab panggilan telepon itu, namun karena saya pikir barangkali saja ada sesuatu yang sangat penting. Akhirnya dengan kondisi masih belum pulih dari rasa kantuk, saya menjawab panggilan telepon itu.

 

Yang pertama kali saya dengar adalah suara seorang pria yang sedang sesengukan menangis dan meronta-ronta. Saya berusaha sedapat mungkin untuk menyimak suara tersebut. Disela-sela tangisan dan suara meronta pria tersebut, terdengar bahwa dia memanggil-manggil sebutan ayah atau kakak (saya kurang pasti). Masih dalam kondisi ngantuk, saya pun mencoba menebak-nebak suara siapakah itu. Dengan setengah menebak, saya menyebutkan nama adik laki-laki saya, namun pria tersebut hanya membalas dengan mengatakan bahwa dia sedang berada didalam sebuah mobil dan sedang dipukili oleh polisi. Suara itu berkali-kali menyebutkan bahwa dia saat ini sedang bingung, kesakitan karena sedang dipukuli polisi dan ketakutan sembari tetap menangis. Akhirnya pria itupun (yang mengaku sedang dipukuli oleh polisi itu) menyerahkan telepon dia ke seorang pria lain-nya.

 

Pria itu mengaku sebagai Aiptu Gading Sianipar yang bertugas di unit 2 Reskrim Polda Kalimantan Timur. Setelah dia mengucapkan salam dan memperkenalkan diri, sang ‘Aiptu’ itupun menjelaskan situasi dan maksud dia menelepon saya. Dia menanyakan apakah saya kenal dengan suara pria yang sebelumnya itu? Mungkin karena masih 1/2 sadar dan limbung, saya menjawab seadanya saja. Saya bilang seperti itu suara adik saya, lantas diapun menjelaskan bahwa mereka baru saja menangkap 3 orang pria karena telah tertangkap tangan menggunakan narkoba jenis shabu-shabu. Dan salah satunya ‘adik’ saya.

 

Sontak, saya yang mash belum benar-benar pulih dari rasa kantuk, menjadi sangat terkejut. Dapat anda bayangkan situasi saya saat itu, dibangunkan dipagi buta dan kemudian mendengar kabar yang seperti itu. Hal itu diperparah dengan tidak adanya kabar dari adik laki-laki saya sejak sekitar 1 bulan terakhir. Sehingga selain kantuk, kaget harus diakui saya juga menjadi panik.

 

Sang ‘Aiptu’ menjelaskan bahwa sang ‘adik’ saya itu tertangkap tangan bersama dengan 2 orang lain sedang memakai shabu-shabu. Sang ‘Aiptu’ menjelaskan apakah saya ingin menempuh jalur damai atau membiarkan kasus tersebut dilanjutkan ke jalur hukum dan ‘adik’ saya itu digelandang ke tahanan polda. Dia menjelaskan bahwa pihak keluarga dari kedua orang lain-nya itu telah memilih jalur damai dengan memberikan dana sebesar 45 juta rupiah kepada para petugas. Bagaimana dengan bapak, ujarnya?

 

Dengan maksud untuk memastikan apakah pria yang dimaksud adalah benar adik laki-laki saya, saya minta sang ‘Aiptu’ memberikan telepon itu ke adik saya atau paling tidak sang ‘Aiptu; dapat membacakan identitas diri ‘adik’ saya itu, agar saya dapat memastikan bahwa itu benar adik laki-laki saya. Sang ‘Aiptu’ menolak dengan alasan ‘adik’ saya sedang berada didalam mobil satunya lagi dan sedang dalam proses interogasi untuk pengembangan kasus tersebut. Semakin saya berusaha memastikan kebenaran informasi mengenai identitas ‘ adik’ saya itu, semakin sang ‘Aiptu’ menekan saya dengan menanyakan keputusan saya; damai atau lanjut ke jalur hukum.

 

Ditengah kebingungan saya menyanggupi untuk mengirim dana sebesar 20 juta rupiah ke rekening komandan sang ‘Aiptu’ itu. Saya diberi waktu 45 menit untuk segera mengirimkan dana tersebut ke nomor rekening yang nanti akan diinformasikan oleh sang ‘Aiptu’ ketika saya sudah berada didepan mesin ATM. Selain itu, demi menjaga kerahasiaan dan agar dia dapat memastikan bahwa saya tidak menghubungi orang lain (wartawan, polisi, LSM, dll) dia meminta saya untuk tetap mengaktifkan ponsel saya sampai dengan transaksi berhasil dilakukan.

 

Singkat cerita, ketika saya sampai didepan mesin ATM, sayapun menanyakan nomor rekening tujuan dan sang ‘Aiptu’ tadi menginformasikan nomor rekening Bank Central Asia (BCA) atas nama Reza Syahputra. Setelah mengirimkan dana yang diminta ke nomor rekening Reza Syahputra tadi, sang ‘Aiptu’ menginformasikan bahwa dia akan segera mengirimkan ‘adik’ saya ke lokasi yang saya inginkan. Setelah saya menginformasikan lokasi yang saya inginkan, sang ‘Aiptu’ tetap meminta saya untuk tidak memutuskan sambungan telepon tersebut sampai dengan dia beserta tim serse mengantar ‘adik’ saya.

 

Setelah menunggu selama 20 menit dilokasi yang sudah disepakati dan sesuai dengan kesepakatan, sang ‘Aiptu’ kembali menginformasikan kepada saya bahwa, dikarenakan kedua ‘tersangka’ lain-nya protes kepada tim serse tersebut. Karena mengapa ‘adik’ saya bisa dilepas dengan uang jaminan sebesar 20 juta rupiah sedangkan mereka baru bisa bebas apabila sudah membayar dana jaminan sebesar 45 juta rupiah. Akhirnya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sang ‘Aiptu’ meminta saya untuk menggenapi pembayaran saya sebesar 45 juta rupiah apabila masih ingin menempuh jalur damai.

 

Hm, mungkin karena saya mulai pulih dari kantuk yang mendera dan juga karena sudah perlahan mulai benar-benar sadar, saya mulai bisa berpikir jernih. Apakah ini penipuan? Sebenarnya ketika masih dalam perjalanan ke ATM, ketika sudah berada didepan ATM dan ketika sudah berada dilokasi yang disepakati, saya mencoba menghubungi adik laki-laki saya menggunakan ponsel saya yang satunya lagi. Namun saat itu, panggilan saya kesemua nomor adik saya, sama sekali tidak dijawab. Hal ini yang membuat saya masih bimbang, jangan-jangan hal ini benar adanya, bahwa adik laki-laki saya itu benar-benar ditangkap. Untuk mengulur waktu, saya minta tambahan waktu sekitar 30 menit kepada sang ‘Aiptu’.

 

Sementara nomor ponsel saya yang satu aktif dengan sang ‘Aiptu’ (posisi microphone-nya saya mute), saya memutuskan untuk menghubungi salah seorang kawan yang kebetulan juga seorang polisi dan bertugas di Polresta Balikpapan. Setelah menjelaskan situasi yang saya hadapi, kawan saya itu meminta saya datang kerumah dinas dia. Sayapun segera menuju kerumah dinas kawan saya itu, setibanya saya disana, kawan saya itu minta agar dia bisa ngomong langsung ke sang ‘Aiptu’. Ternyata kawan saya itu saat ini berdinas di Sat Serse Polresta Balikpapan, dan setelah sempat ngomong sebentar dengan sang ‘Aiptu’, kawan saya itupun memastikan bahwa hal ini adalah tindakan kriminal dengan modus penipuan. Dan dia meminta saya mematikan telepon saya.

 

Saat itu juga, saya menelpon pihak BCA untuk segera memblokir rekening saya dan juga rekening sang penerima. Hal ini ternyata dimungkinkan untuk dilakukan. Setelah melakukan klarifikasi informasi (data pribadi, dll) dan menjelaskan situasi yang baru saja terjadi pada saya, pihak BCA segera memblokir kedua rekening sesuai dengan permintaan saya. Dari petugas call-center BCA saya mendapatkan informasi bahwa nomor rekening atas nama Reza Syahputra itu adalah nomor rekening BCA cabang Medan, Sumatera Utara.

 

Sembari melakukan pemblokiran melalui telepon ke BCA, bersama dengan kawan saya itu, kamipun menuju kantor Polresta Balikpapan untuk melakukan pelaporan. Setelah melakukan pelaporan kepada para petugas jaga, saya dibawa ke ruang periksa reskrim untuk membuat BAP atas kasus penipuan tersebut. Dan setelah semua berkas yang dibutuhkan selesai dibuat, sayapun mengirimkan salinan surat pelaporan ke Polresta Balikpapan itu kepada pihak BCA melalui faksimili. Pihak BCA saat itu belum bisa memastikan apakah dana yang sudah saya kirimkan ke nomor rekening Reza Syahputra itu sudah dicarikan atau belum. Karena tepat pada saat kejadian adalah hari Sabtu dimana para petugas yang berwenang di BCA sudah libur dan juga dibutuhkan waktu untuk itu.

 

Ketika masih berada dikantor polisi dan melaporkan kejadian itu, saya coba mengaktifkan nomor telepon saya, dan saya mendapatkan 1 sms dari sang ‘Aiptu’ tadi. Berikut adalah isi dari pesan singkat dari sang ‘Aiptu’ itu:

Knp telpo dr km tdk bpk angkt? y sdh pak kit btlkn prjanjian kt, bpk krmkn sj no REK bpk! biar kami kmblikn uang bpk dn adk bpk trpksa km bw k polda, akn km lumphkn k 2 kakiny krn mlwn dn mencoba mlrikn diri swkt km tangkp, slmt pg ga?

 

Saya sudah menunjukan isi pesan singkat dari nomor 082163642917 itu kepada para petugas yang menerima pelaporan saya.

 

Apabila memang dana yang sudah saya kirimkan itu harus hilang karena kasus penipuan ini, saya pasrah saja. Daripada harus sakit hati karena kehilangan dana tersebut, saya lebih mementingkan informasi mengenai keberadaan adik saya. Dan tepat pada pukul 07.00 WITA, adik saya membalas sms yang saya kirimkan dan juga menelpon saya. Dia mengatakan bahwa saat ini dia baik-baik saja, dan ketika saya menelpon, saat itu dia sedang tidur dirumah salah seorang kawan dia yang berada tidak jauh dari rumah saya. Walaupun agak sedikit kesal, namun saya tetap bersyukur bahwa dia baik-baik saja.

 

 

Pelajaran Berharga (20 juta rupiah)

Selalu ada hal positif dalam segala masalah yang kita hadapi. Dengan mencoba untuk meyakini hal tersebut, saya berusaha sedapat mungkin untuk melupakan soal dana tersebut. Syukurlah apabila dana tersebut memang bisa dikembalikan ke rekening saya, namun bila tidak, barangkali itu adalah harga yang harus saya bayarkan untuk bisa lebih arif lagi dan bisa menambah wawasan saya dalam menghadapi hal-hal semacam ini.

Namun demikian, agar hal semacam ini tidak terjadi lagi kepada anda juga, berikut ada beberapa catatan saya mengenai hal ini:

 

- Jangan gampang panik. Karena menurut pihak Polresta Balikpapan, modus operandi penipuan seperti ini, memang selalu terjadi tengah malam atau dini hari. Apabila orang yang mengaku sebagai petugas itu tidak dapat membacakan identitas lengkap orang yang mereka tangkap, maka besar kemungkinkan itu adalah penipuan.

 

- Sedapat mungkin segera melaporkan hal itu ke polisi. Apabila anda sempat mendapatkan telepon seperti itu dimana sang penipu meminta anda untuk tetap meneruskan sambungan telepon-nya, segeralah kekantor polisi dan minta petugas untuk dapat berkomunikasi langsung dengan sang penipu. Karena mereka terlatih dan memiliki metode mereka sendiri dalam menghadapi hal-hal semacam ini.

 

- Apabila anda sudah terlanjur mengirimkan dana kepihak penipu, segera hubungi bank anda melalui nomor telepon call-center resmi bank anda. Mintalah kepada petugas call-center bank anda, untuk segera memblokir nomor rekening anda dan juga nomor rekening sang penipu.

 

- Selalu simpan berkas-berkas komunikasi anda dengan sang penipu (bukti transfer, sms, nomor telepon, nama sang penipu, dll) agar memudahkan proses penyelidikan dikemudian hari.

 

- Kasus penipuan dengan modus sejenis juga terjadi dengan menggunakan cerita korban tabrak lari, harus dioperasi segera, dll.

 

- Pastikan anda atau saudara anda untuk tetap dapat dihubungi setiap saat. Atau paling tidak, anda memiliki nomor telepon kawan/relasi dekat saudara anda. Sehingga ketika anda tidak dapat menghubungi saudara anda, paling tidak anda memiliki nomor telepon kawan/relasi dia.

 

- Sedapat mungkin mencari alasan-alasan agar anda dapat mengulur-ulur waktu sehingga dapat memberikan waktu kepada anda untuk berpikir jernih.

 

Saya tidak menyalahkan 100% pelaku penipuan tersebut, karena dia telah dapat menggunakan kelemahan dan kelengahan saya. Demikianlah yang dapat saya sharing kepada anda mengenai hal ini. Semoga kita semua tidak mengalami hal semacam ini lagi dikemudian hari.