subscription options



Or, subscribe via email
about me

Born in Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia. A mid-size city in central region of Indonesia, it also known as “Oil City”. A place where its surrounding are major players in Oil-Gas and others coal/mining industries.


I would love to spend my spare time on listening to jazz, readings, blogging, photography.


For full details please follow this link.
My Pictures on
Information sharing
View Yulianus Ladung's profile on LinkedIn



Dukungan BBV untuk gerakan #IndonesiaUnite



« Back

Kalah = Ksatria .. Mungkinkah?

Written by Admin on Sunday, February 22, 2009 – 1:43 am

Apabila Anda termasuk penggemar tayangan film, baik layar lebar maupun televisi, terutama film-film yang berasal dari Hollywood, maka bisa jadi Anda juga termasuk penggemar film yang tajuknya sama dengan tajuk tulisan ini The Last Samurai.

 

Sebuah film epik yang berlatar belakang Jepang ditahun 1870-an, disaat Jepang mulai mengalami moderinisasi dan goncangan terhadap nilai-nilai budaya lokal Jepang yang terancam punah. Dan diantara yang terancam punah itu adalah pola hidup ksatria yang kita kenal dengan sebutan Samurai.

 

Dari judulnya, film yang disutradai oleh Edward Zwick dan yang naskahnya ditulis oleh John Logan serta ber-genre Action, Adventure, Drama dan War dapat kita tebak bercerita tentang peperangan, penuh kekerasan, sadis dan intrik. Namun demikian film ini sungguh sangat layak ditonton. Walaupun menurut banyak kritikus film, The Last Samurai terlalu mengangungkan Tom Cruise sebagai tokoh sentral dalam film ini dan juga memposisikan bangsa Asia sebagai bangsa yang plin-plan, dimana untuk menyadari kekayaan budaya lokal yang dimiliki-nya harus dibantu sadar kembali oleh pengaruh dari Barat.

 

Ketika saya membuat tulisan ini, saya sudah kali ke 14 menonton film The Last Samurai sejak pertama kali ditayangkan diakhir 2003. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas mengenai film tersebut atau membahas dan mengupas kaidah-kaidah sinematografi. Melainkan saya sekedar ingin berbagi, mengenai apa yang saya pahami dari film tersebut, selain dari hingar-bingarnya efek sinematografi khas Hollywood yang selalu saja menawan dan sering kali membuat kita berdecak kagum.

 

Ksatria
The Last Samurai adalah satu dari sekian banyak film yang mengambil tema kesatrian  atau heroisme sebagai tema sentral. Tema yang lazimnya akan bermuara pada satu tokoh tertentu baik itu personal maupun massal/kelompok.

 

Dalam film semacam itu, tokoh dan/atau para tokoh selalu menyajikan watak dan dialok yang membawa kita kepada sebuah kesadaran baru berkaitan dengan sikap ksatria/kepahlawanan. Sebuah sikap yang bagi banyak orang (kita) sangat sulit untuk dilaksanakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di film ini, pesan-pesan moral akan kesatrian sangat kental disampaikan. Dapat Anda simak  dialog yang terjadi diantara Captain Nathan Algren (Tom Cruise) dan Katsumoto (Ben Watanabe), dimana Katsumoto sebanyak 2 kali menyampaikan pentingnya Bushido (武士道 "tatacara ksatria”).

 

Apabila Anda sempat mengikuti pelatihan beladiri ala Jepang seperti Kempo, Karate, Taekwondo, Jujitsu, dll, dapat dipastikan Anda pernah mendapatkan wejangan dari Simpai Anda mengenai Bushido.

 

Walaupun mudah untuk dijabarkan dan dijelaskan, namun Bushido tidaklah mudah untuk dijalankan. Terlebih dimasa seperti sekarang ini, dimana tantangan hidup kita sehari-hari semakin menantang dan penuh dengan persaingan.

 

Economic Down Turn yang terjadi saat ini juga ‘memaksa’ banyak diantara kita untuk melakukan segala cara untuk bisa bertahan ‘hidup’ dan menjalankan segala rencana yang sudah dipersiapkan sekian lama.

 

Dalam kondisi dan situasi seperti sekarang ini, kaidah-kaidah norma sosial yang bernilai ‘timur’ berada diujung tanduk dan dipertaruhkan. Segalanya bisa menjadi putih dan ‘halal’ dengan mengatasnamakan perjuangan dan kesuksesan.

 

Sikap ksatria itu bukan sebuah teori.
Sikap ksatria itu bukan sebuah wacana.
Sikap ksatria itu bukan sebuah dongeng indah sebelum tidur.

 

Sikap ksatria itu adalah sebuah sikap yang dapat ditunjukan ketika kita mengalami:

 

Kekalahan
Kesalahan
Kelemahan
Kekecewaan

 

Mungkin apabila kita bisa mengangkat kepala dan dengan tegar mengakui bahwa kita sedang dalam kondisi atau situasi diatas, maka kita dapat termasuk mereka yang sudah bersikap sebagai seorang KSATRIA.

 

Kembali ke film The Last Samurai itu, dapat kita lihat, walaupun pada akhirnya Sang Matahari (nama lain untuk Kaisar Jepang) diceritakan telah melakukan kesalahan, namun dia dengan berani mengakui kesalahan-nya itu, dan tidak berlindung dibalik jabatan-nya dan kemudian menyalahkan orang lain atas kesalahan tersebut.

 

Menjadi seorang KSATRIA memang tidak mudah.

 

Apabila kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan untuk bisa memiliki/mendapatkan yang kita inginkan dengan sangat, namun walaupun kita harus kehilangan dan tidak mendapatkan apa yang kita inginkan itu pada akhirnya, maka kita sudah menjadi seorang KSATRIA.

 

Apakah saya seorang Ksatria? Hm, bisa jadi saja sudah namun bisa jadi juga belum. Namun yang pasti masih banyak hal yang harus dipelajari dan dilalui. Semoga.


Posted in Life Story, Movie, Social Life | 1 Comment »

One Comment to “Kalah = Ksatria .. Mungkinkah?”

  1. paijos Says:

    wah, menarik ulasannya mas. inspiratif.
    menurut saya, proses itu lebih penting dari pada hasil. Bagaimana kita berjuang, bagaimana kita bertarung, bagaimana kita survive, itu adalah proses yg akan menjadi pengalaman yg sangat berharga. Hasil, itu urusan yg di atas. Jadi apapun hasilnya kalo kita bisa menyadari, itu adalah dari tuhan, kita tetap bisa menjadi ksatria.
    kalo boleh, tuker link ya mas. salam.

Leave a Comment