


Facebook makin manis
Beberapa waktu belakangan ini, Facebook yang merupakan sebuah situs jejaring sosial di internet, semakin menarik perhatian banyak khalayak dan merangsang warga negara negeri ini untuk berpendapat dan beropini.
Dalam waktu 1 minggu terakhir ini saja, Saya sempat menyaksikan beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia mengangkat situs internet yang menyajikan layanan jejaring sosial Facebook sebagai tema dari beberapa acara yang ditayangkan di stasiun-stasiun tersebut.
Mungkin masih hangat dalam ingatan anda, ketika salah satu petinggi partai politik di Indonesia seperti ‘kebakaran jenggot’ karena mendapatkan penolakan kepada dirinya yang disuarakan melalui Facebook, menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum yang lalu. Belum lagi, masalah fatwa haram yang rencana-nya akan dihujamkan ke Facebook oleh salah satu lembaga ke-agamaan di negeri ini.
Bisa jadi karena meniru sepak terjang Presiden Amerika Serikat; Obama, yang sudah terlebih dahulu menggunakan Facebook sebagai sarana kampanyenya, menjelang Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia pada bulan Juli yang akan datang, Facebook juga menjadi salah satu media bantu bagi pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang dipilih untuk menjaring suara calon pemilih.
Kiranya pemilihan sarana kampanye online melalui situs internet seperti Facebook memang cukup menjanjikan. Simak saja laporan situs Alexa yang dapat Anda simak disini yang menempatkan Facebook pada urutan pertama diantara Twitter.com dan Myspace.com.
Selain itu, pemilihan Facebook sebagai sarana kampanye juga tepat karena masih menurut Alexa, jumlah user Facebook yang berasal dari Indonesia masuk dalam 5 besar setelah Amerika Serikat, Inggris Raya, Italia, Perancis. Bahkan Indonesia didaulat sebagai urutan pertama sebagai penyumbang traffic terbesar ke server Facebook.
Informasi tersebut walaupun mungkin tidak mewakili informasi yang sebenarnya, tetap saja memberikan angin segar serta sebuah sarana yang cukup menjanjikan bagi para kandidat Presiden dan Wakil Presiden yang akan maju menuju Pemilihan Umum nanti. Terutama bagi para kandidat yang membidik para pemilih pemula yang rata-rata sudah akrab dan familiar dengan teknologi internet dan komunikasi (sms).
Agaknya memang, tren para pelaku politik sudah mulai benar-benar memperhitungkan anak muda sebagai lahan subur dimana mereka bisa menuai suara pada Pemilu nanti.
Terlepas dari hasilnya bagaimana nanti, paling tidak kita bisa mulai berharap agar dengan mulai diperhitungkan-nya suara anak muda dalam percaturan politik Indonesia, dapat membawa angin segar terhadap perubahan peta politik yang semakin dinamis serta dapat membawa secercah harapan bagi anak bangsa yang mungkin saat ini masih jauh dari mampu untuk dapat merasakan kemewahan mengakses internet.
Semoga.
























